PERJALANANWONDO - Biasanya sungai identik dengan aliran air yang terus bergerak. Tapi belakangan, pemandangan di sejumlah sungai besar Indonesia justru terlihat berbeda. Kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat debit air di beberapa sungai menyusut. Bahkan, bagian sungai yang biasanya dipenuhi air kini mulai memperlihatkan dasar dan daratan di sekitarnya. Fenomena ini terlihat di beberapa sungai besar, mulai dari Sumatra hingga Kalimantan.
1. Sungai Mahakam

Sumber: AntaraKaltim
Sungai Mahakam merupakan salah satu sungai besar di Kalimantan Timur yang punya peran penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun, memasuki puncak kemarau 2026, debit Sungai Mahakam mulai menyusut. Di sejumlah wilayah, kondisi sungai yang surut bahkan membuat aktivitas masyarakat dan distribusi melalui jalur sungai ikut terdampak.
Menariknya, penyusutan debit juga membuat air laut mulai masuk ke bagian Sungai Mahakam. Kondisi ini disebut sebagai dampak dari debit sungai yang terus menurun selama kemarau.
Baca Juga: Kenapa Hutan Kalimantan Harus Dijaga? Jawabannya Bukan Cuma Karena Orangutan
2. Sungai Batanghari

Sumber: Detik.com
Beralih ke Sumatra, ada Sungai Batanghari yang mengalir melewati wilayah Jambi. Kemarau panjang juga membuat debit sungai ini terus menyusut. Kondisi tersebut bahkan dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah. Padahal, Sungai Batanghari bukan sekadar bentang alam. Sungai ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di sepanjang alirannya.
3. Sungai Kapuas
:quality(80)/https://kompas.id/wp-content/uploads/2019/08/20190813jum-sungai_kapuas_surut_1SILO.jpg)
Sumber: Kompas
Sungai Kapuas di Kalimantan Barat juga mengalami penyusutan debit akibat kemarau. Di beberapa bagian, air yang surut membuat dasar sungai dan area yang biasanya tertutup air mulai terlihat. Pendangkalan Sungai Kapuas juga ikut memberikan tekanan terhadap kebutuhan air masyarakat. Pemandangan ini tentu cukup berbeda dari kondisi Kapuas yang biasanya kita kenal sebagai sungai besar dengan aliran air yang luas.
4. Sungai Barito

Sumber: Kompas
Sungai Barito menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian belakangan ini. Di beberapa titik di Kalimantan Tengah, debit airnya menyusut drastis hingga membuat bagian dasar sungai terlihat seperti hamparan pasir. Kondisi ini terjadi saat Kalimantan Tengah memasuki puncak musim kemarau.
Namun, perlu diluruskan bahwa Sungai Barito tidak benar-benar kering seluruhnya. Kementerian PU menyebut alur utama sungai masih memiliki air dan masih dapat dilalui kapal. Yang terlihat seperti “sungai berubah menjadi daratan” terutama merupakan bagian yang mengalami penyusutan debit dan munculnya gosong pasir.
Baca Juga: Desa Sade Terbakar, Mengenal Kampung Adat Suku Sasak yang Bertahan 15 Generasi
Ketika Sungai Mulai Surut, Apa Artinya?
Pemandangan sungai yang menyusut memang menarik untuk dilihat, apalagi ketika bagian dasar sungai yang biasanya tertutup air mulai muncul ke permukaan. Tapi di balik pemandangan tersebut, ada kondisi yang perlu diperhatikan.
Kemarau panjang bukan hanya membuat suhu terasa lebih panas. Debit air yang menurun juga dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, transportasi sungai, aktivitas masyarakat, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG juga memperkirakan puncak kemarau di sejumlah wilayah berlangsung sekitar Agustus–September 2026.
Jadi, kalau belakangan kamu melihat foto sungai-sungai besar Indonesia yang terlihat jauh lebih surut dari biasanya, itu bukan sekadar perubahan pemandangan. Alam sedang menunjukkan bagaimana panjangnya musim kemarau bisa mengubah banyak hal. Semoga hujan segera turun di wilayah-wilayah yang membutuhkan dan kondisi sungai serta lingkungan di sekitarnya dapat kembali normal.


