PERJALANANWONDO - Kalau berjalan-jalan di Yogyakarta, mungkin kamu pernah bertanya-tanya: kenapa Keraton Yogyakarta berada di lokasi tersebut?
Bukankah sebuah istana bisa dibangun di mana saja?
Ternyata, posisi Keraton Yogyakarta bukan sekadar keputusan soal lokasi. Sejak awal pembangunannya, kawasan ini dirancang dengan berbagai pertimbangan filosofis yang menghubungkan manusia, alam, dan kehidupan.
Bahkan, dari Gunung Merapi di utara hingga Laut Selatan di selatan, bentang alam Yogyakarta memiliki hubungan dengan konsep kosmologi Jawa yang kemudian diwujudkan dalam tata ruang kota.
Inilah yang membuat Keraton Yogyakarta menyimpan “misteri” yang menarik untuk ditelusuri.
Bukan misteri tentang hal-hal gaib, melainkan tentang makna yang tersembunyi di balik tempat, bangunan, jalan, hingga simbol-simbol yang mungkin selama ini kita lewati begitu saja.
Keraton Yogyakarta Dibangun dengan Konsep yang Tidak Sembarangan
Keraton Yogyakarta mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi pada 1755, setelah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembangunan keraton dan kota Yogyakarta kemudian mengikuti konsepsi Jawa yang mempertimbangkan bentang alam seperti gunung, laut, sungai, dan daratan.
Salah satu gagasan yang menjadi dasar penataan tersebut adalah Hamemayu Hayuning Bawana, yang berkaitan dengan upaya menjaga alam agar tetap indah, selamat, dan lestari.
Artinya, ketika melihat Keraton Yogyakarta, kita sebenarnya sedang melihat lebih dari sekadar kompleks bangunan kerajaan.
Ada filosofi yang ikut membentuk bagaimana kota ini ditata.
Benarkah Keraton Berada di Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan?
Inilah salah satu hal yang paling menarik.
Secara umum, banyak orang mengenal hubungan antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan sebagai sebuah garis lurus.
Namun, ada hal penting yang perlu diluruskan.
Menurut situs resmi Keraton Yogyakarta, Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan sebenarnya tidak persis berada dalam satu garis lurus. Karena itu, hubungan bentang alam tersebut disebut sebagai sumbu imajiner.
Sementara itu, sumbu nyata yang membentang utara-selatan menghubungkan Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak.
Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.
UNESCO juga menjelaskan bahwa sumbu tersebut membentang sekitar enam kilometer dan menjadi bagian penting dari lanskap budaya Yogyakarta, dengan Keraton berada di bagian tengahnya.
Apa Makna Sumbu Filosofi Yogyakarta?
Sumbu Filosofi bukan hanya soal garis atau arah jalan.
Di baliknya terdapat konsep Sangkan Paraning Dumadi, yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari asal hingga tujuan akhirnya.
Itulah mengapa sejumlah tempat yang berada di sepanjang sumbu tersebut memiliki nama, bentuk, dan fungsi yang mengandung makna tertentu.
Perjalanan dari bagian selatan menuju Keraton hingga ke arah utara dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan kehidupan manusia.
Jadi, kalau selama ini Jalan Malioboro, Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak hanya terlihat sebagai bagian dari destinasi wisata Jogja, ternyata semuanya memiliki hubungan dalam sebuah konsep yang jauh lebih besar.
Tugu Golong Gilig dan Makna di Baliknya
Salah satu bagian penting dari sumbu tersebut adalah Tugu Golong Gilig.
Tugu yang sekarang dikenal luas sebagai Tugu Jogja memiliki sejarah yang panjang. Tugu Golong Gilig dibangun pada 1756, setahun setelah Yogyakarta berdiri. Bentuk awalnya terdiri dari bagian silinder atau golong dan bagian puncak berbentuk bulatan atau gilig.
Namanya ternyata bukan sekadar nama.
Menurut Keraton Yogyakarta, bentuk golong gilig memiliki makna persatuan antara rakyat dan rajanya. Dalam konteks filosofis Sumbu Filosofi, bentuk tersebut juga dikaitkan dengan kesatuan cipta, rasa, dan karsa dalam menghadap Sang Pencipta.
Menarik, bukan?
Sebuah landmark yang sekarang menjadi salah satu tempat foto populer di Jogja ternyata memiliki cerita filosofis yang sudah dirancang sejak abad ke-18.
Kenapa Tata Ruang Keraton Penuh Simbol?
Kalau masuk lebih jauh, konsep filosofis tersebut tidak berhenti pada jalan dan tugu.
Tata Rakiting Wewangunan merupakan konsep yang mencakup tata ruang, bangunan, ragam hias, tanaman, hingga fungsi setiap ruang di Keraton Yogyakarta.
Kompleks inti Keraton sendiri tersusun dalam rangkaian tujuh plataran, mulai dari kawasan Alun-Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan. Masing-masing bagian memiliki fungsi dan karakter yang berbeda.
Artinya, bentuk bangunan dan susunan ruang di dalam keraton tidak dibuat semata-mata untuk terlihat megah.
Ada pertimbangan mengenai fungsi sekaligus makna yang melekat pada setiap bagiannya.
Baca Juga, Misteri Goa Jomblang dan Cahaya Surga di Perut Bumi Gunungkidul
Keraton, Manusia, dan Alam dalam Satu Konsep
Salah satu gagasan menarik dalam tata ruang Yogyakarta adalah hubungan antara jagad cilik atau mikrokosmos dan jagad gedhe atau makrokosmos.
Konsep tersebut juga terlihat pada bangunan hunian bangsawan atau ndalem, yang tata ruangnya mengikuti orientasi kosmologis keraton, yaitu utara-selatan dengan hubungan Gunung Merapi dan Laut Selatan.
Dengan begitu, filosofi Keraton ternyata tidak hanya berada di balik tembok kompleks istana.
Pengaruhnya juga dapat ditemukan dalam tata ruang dan budaya masyarakat di sekitarnya.
Inilah yang membuat Yogyakarta terasa berbeda ketika dijelajahi. Ada hubungan antara ruang kota, bangunan, tradisi, dan cara masyarakat memandang kehidupan.
Sumbu Filosofi Yogyakarta Kini Diakui UNESCO
Menariknya, konsep yang telah berkembang sejak abad ke-18 tersebut bukan hanya menjadi bagian dari cerita lokal.
Pada 2023, kawasan The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. UNESCO menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan kesaksian penting mengenai peradaban dan kebudayaan Jawa, termasuk filosofi mengenai siklus kehidupan dan hubungan manusia dengan alam serta Sang Pencipta.
Warisan yang dimaksud juga bukan hanya satu bangunan.
Kawasan tersebut mencakup Keraton dan berbagai landmark yang berada di sepanjang sumbu filosofis Yogyakarta.
Jadi, ketika berjalan dari kawasan Tugu menuju Keraton, pengalaman yang kita dapatkan sebenarnya merupakan bagian dari sebuah lanskap budaya yang telah dibangun dan dimaknai selama berabad-abad.
Jadi, Apa “Misteri” Keraton Yogyakarta?
Mungkin setelah mengetahui ceritanya, misteri Keraton Yogyakarta justru terasa semakin menarik.
Tidak ada satu rahasia tersembunyi yang harus dicari di balik tembok keraton.
Misterinya ada pada bagaimana sebuah kota dirancang dengan begitu banyak lapisan makna.
Gunung, laut, jalan, tugu, alun-alun, keraton, bahkan tanaman dan nama tempat dapat menjadi bagian dari filosofi kehidupan.
Yang terlihat seperti tata kota biasa ternyata menyimpan cara pandang masyarakat Jawa mengenai hubungan manusia dengan alam, kehidupan, dan Sang Pencipta.
Dan mungkin itulah alasan mengapa menjelajahi Yogyakarta tidak pernah terasa cukup hanya dalam satu kunjungan.
Tips Menjelajahi Keraton dan Sumbu Filosofi Yogyakarta
Kalau ingin melihat sisi Yogyakarta yang lebih dalam, jangan hanya mengunjungi Keraton lalu berpindah ke destinasi berikutnya.
Coba luangkan waktu untuk menyusuri kawasan Sumbu Filosofi dan memperhatikan landmark yang ada di sepanjang jalurnya.
Kamu juga bisa mencari informasi mengenai sejarah setiap tempat sebelum berkunjung, sehingga bangunan yang terlihat sederhana sekalipun memiliki konteks yang lebih menarik.
Yang tidak kalah penting, tetap hormati aturan dan tata krama saat berada di kawasan Keraton, karena tempat ini bukan hanya destinasi wisata tetapi juga bagian dari warisan budaya yang masih hidup.
Baca Juga, Misteri Kawah Ijen: Rahasia di Balik Blue Fire dan Danau Kawah
Menjelajahi Yogyakarta Lewat Cerita di Balik Tempatnya
Yogyakarta mungkin sudah sangat familiar bagi banyak wisatawan.
Namun, semakin dalam mengenalnya, semakin banyak cerita yang ternyata belum kita ketahui.
Keraton bukan hanya tempat untuk melihat bangunan bersejarah. Sumbu Filosofi bukan sekadar jalan yang menghubungkan beberapa landmark. Dan Tugu bukan hanya tempat populer untuk berfoto.
Semuanya merupakan bagian dari sebuah konsep besar tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan dan menjaga hubungan dengan alam serta lingkungan di sekitarnya.
Jadi, saat berikutnya kamu berada di Yogyakarta, coba lihat kota ini dengan cara yang sedikit berbeda.
Bukan hanya sebagai tempat untuk berlibur, tetapi sebagai kota yang menyimpan cerita di balik setiap ruangnya.
Kalau selama ini Yogyakarta cuma ada di daftar untuk kulineran, jalan-jalan di Malioboro, atau berburu foto, mungkin sekarang saatnya melihat sisi lainnya.
Coba luangkan waktu untuk menyusuri Keraton dan kawasan Sumbu Filosofi, lalu perhatikan bagaimana sejarah dan filosofi Jawa masih terasa dalam ruang kota sampai sekarang.
Karena kadang, pengalaman perjalanan yang paling menarik bukan tentang seberapa banyak tempat yang berhasil kita datangi, tetapi seberapa banyak cerita yang berhasil kita pahami dari tempat tersebut.
Wondo siap menemani kamu menemukan cerita-cerita menarik dari berbagai penjuru Indonesia.


