PERJALANAN WONDO - Lari merupakan salah satu cabang olahraga tertua di dunia, dan di Indonesia sendiri, perkembangannya menyimpan sejarah yang panjang—mulai dari tradisi berburu hingga menjadi bagian dari gaya hidup modern (lifestyle) yang masif saat ini.
Berikut adalah linimasa perjalanan sejarah olahraga lari di bumi Nusantara.
Masa Prasejarah hingga Kolonial: Dari Bertahan Hidup Menuju Kompetisi
Sebelum menjadi olahraga yang terukur seperti sekarang, lari pada masa prasejarah di Indonesia merupakan mekanisme pertahanan hidup. Masyarakat menggunakannya untuk berburu hewan atau berpindah tempat.
Format lari sebagai olahraga kompetitif baru mulai dikenal luas pada masa penjajahan Belanda.
-
Awal Abad ke-20: Pemerintah kolonial Belanda mulai memasukkan atletik, termasuk lari, ke dalam kurikulum pendidikan sekolah-sekolah Belanda (STOVIA, NIAS, dll.). Namun, saat itu aksesnya masih sangat terbatas bagi kaum pribumi.
-
1921: Berdiri organisasi atletik pertama di Indonesia bernama NIAU (Nederlandsch Indische Athletiek Unie). Organisasi ini fokus menyelenggarakan perlombaan atletik, termasuk lari jarak pendek dan estafet, meski pesertanya mayoritas adalah warga Belanda dan kalangan elite.
Era Kemerdekaan: Lahirnya PASI dan PON I (1940-an - 1950-an)
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, semangat untuk memajukan olahraga nasional berkobar. Olahraga lari dipandang sebagai salah satu alat pemersatu bangsa dan penegak kedaulatan di kancah internasional.
- Pekan Olahraga Nasional (PON) I
Era Keemasan: Lahirnya Sprinter Legendaris (1980-an - Sekarang)
Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat disegani di tingkat Asia, khususnya untuk nomor lari jarak pendek (sprint). Pada era 1980-an, muncul nama Purnomo MuhammadYusdi, sprinter Indonesia pertama yang berhasil menembus babak semifinal lari 100 meter di Olimpiade Los Angeles 1984.

Kejayaan ini terus berlanjut hingga era modern:
-
Mardi Lestari (1980-an akhir): Berhasil menembus semifinal Olimpiade Seoul 1988 dan mencetak rekor nasional yang bertahan cukup lama.
-
Lalu Muhammad Zohri (2018): Mengguncang dunia dengan menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, untuk nomor 100 meter dengan catatan waktu 10,18 detik. Zohri menjadi simbol bangkitnya kembali prestasi lari Indonesia di panggung dunia.
Transformasi Menuju Gaya Hidup dan "Booming" Run (2010-an - 2020-an)
Memasuki dekade 2010-an hingga era 2020-an, olahraga lari di Indonesia mengalami pergeseran makna yang luar biasa. Lari tidak lagi hanya sekadar olahraga prestasi yang dilakukan oleh atlet di lintasan tartan, melainkan telah bermutasi menjadi sebuah gaya hidup kaum urban dan bagian dari industri rekreasi.
Beberapa faktor yang memicu booming olahraga lari di Indonesia antara lain:
-
Menjamurnya Komunitas Lari: Di berbagai kota besar, muncul komunitas lari seperti IndoRunners yang inklusif, mengajak siapa saja untuk berlari tanpa memandang kecepatan.
-
Event Maraton Internasional: Kehadiran ajang bergengsi seperti Jakarta Marathon, Bali Marathon (Maybank), dan berbagai lomba lari tematik (Color Run, Trail Run) menarik puluhan ribu peserta setiap tahunnya.
-
Teknologi dan Mode: Penggunaan aplikasi pelacak (Strava, Garmin) serta tren sepatu lari (running shoes) dengan teknologi pelat karbon mengubah lari menjadi aktivitas yang sangat sosial dan ajang unjuk ekspresi di media sosial.
Dari yang mulanya hanya sarana bertahan hidup di zaman kuno, kini lari di Indonesia telah menjelma menjadi simbol kesehatan, komunitas, dan produktivitas masyarakat modern. Wondo Indonesia bersama Terang Kreasi, menggelar acara Jakarta Color and Bubble Run tanggal 19 Juli 2026, untuk ikuti acaranya bisa melalui link berikut : https://wondo.co.id/package/308/jakarta-color-and-bubble-run


