PERJALANANWONDO - Gunung Semeru Erupsi, Apa Saja yang Sebenarnya Keluar dari Dalam Gunung?
Ketika sebuah gunung api erupsi, hal pertama yang biasanya terlihat adalah kepulan abu yang membumbung tinggi ke udara. Dari kejauhan, erupsi mungkin terlihat seperti gunung sedang mengeluarkan asap. Padahal, apa yang keluar dari gunung api jauh lebih kompleks dari sekadar asap.
Hal tersebut kembali terlihat dari aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur. Pada 6 September 2026, Semeru mengalami erupsi dengan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Aktivitas erupsi juga kembali tercatat pada 7 September.
Lantas, sebenarnya apa yang sedang keluar dari dalam tubuh Gunung Semeru ketika erupsi?
Jawabannya bukan hanya abu. Ada lava, gas vulkanik, material pijar, hingga awan panas yang terbentuk melalui proses berbeda.
Apa yang Sebenarnya Ada di Dalam Gunung Api?
Untuk memahami erupsi, kita perlu membayangkan apa yang terjadi di bawah permukaan.
Di dalam gunung api terdapat sistem magma yang berisi material batuan cair atau magma serta gas-gas terlarut. Ketika magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan di sekitarnya semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat gas yang sebelumnya terlarut di dalam magma mulai terlepas.
Jika tekanan dan kondisi lainnya memungkinkan, material dari dalam sistem gunung api kemudian dapat keluar melalui kawah dalam bentuk erupsi.
Pada Semeru, pusat aktivitas erupsi berada di Kawah Jonggring Seloko, yang terletak di sisi tenggara Puncak Mahameru. Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi Semeru dapat memiliki karakter vulkanian maupun strombolian, serta dapat disertai pembentukan kubah dan lidah lava.
Jadi, apa yang terlihat dari luar sebenarnya merupakan hasil dari proses yang terjadi jauh di bawah permukaan.
2. Lava, Magma yang Sudah Keluar ke Permukaan
Istilah magma dan lava sering dianggap sama, padahal keduanya digunakan untuk kondisi yang berbeda.
Magma merupakan material batuan cair yang berada di bawah permukaan bumi. Ketika material tersebut keluar ke permukaan, istilah yang digunakan adalah lava.
Pada Gunung Semeru, aktivitas lava juga menjadi bagian dari karakter gunung api ini. Badan Geologi mencatat adanya pembentukan kubah dan lidah lava di sekitar Kawah Jonggring Seloko. Material tersebut kemudian dapat mengalami guguran dan menjadi salah satu sumber bahaya di sekitar gunung.
Jadi, ketika melihat lava mengalir dari gunung api, sebenarnya kita sedang melihat material dari sistem magma yang sudah mencapai permukaan.
3. Gas Vulkanik yang Tidak Selalu Terlihat
Selain material padat dan cair, gunung api juga melepaskan gas vulkanik.
Inilah salah satu bagian erupsi yang menarik karena tidak semua gas bisa dilihat dengan mata.
Gas vulkanik dapat mengandung berbagai senyawa, termasuk uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida, dan hidrogen sulfida. Masing-masing memiliki karakter dan potensi bahaya yang berbeda.
Beberapa gas dapat mengiritasi saluran pernapasan, sementara gas seperti karbon dioksida dapat menjadi berbahaya apabila terakumulasi dalam konsentrasi tinggi di lokasi tertentu.
Karena itu, bahaya gunung api bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat dari jauh. Ada pula bahaya yang tidak selalu terlihat tetapi tetap perlu dipantau.
4. Awan Panas, Bukan Sekadar Asap
Istilah awan panas juga sering muncul ketika membahas erupsi Semeru.
Namun, awan panas bukanlah asap biasa.
Pada Semeru, awan panas dapat terbentuk ketika material vulkanik panas seperti guguran lava atau material dari kubah mengalami pergerakan menuruni lereng. Badan Geologi mencatat bahwa aktivitas Semeru memiliki potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar.
Material panas tersebut dapat bergerak mengikuti lembah atau jalur tertentu. Karena suhunya tinggi dan pergerakannya dapat berlangsung cepat, awan panas menjadi salah satu bahaya utama gunung api.
Inilah alasan mengapa kawasan sekitar kawah dan jalur tertentu di Semeru tidak boleh didekati ketika aktivitas gunung meningkat.
Baca Juga, Penerbangan Batal Kena Abu Krakatau? Tenang, Ini 7 Bandara yang Masih Aman dan Buka
5. Batu Pijar dan Material Lontaran
Erupsi juga dapat melontarkan material dari dalam gunung.
Material tersebut dapat berupa batuan atau material vulkanik panas yang terlontar dari kawah dan jatuh kembali di sekitar gunung.
Bahayanya tentu berbeda dengan abu yang terbawa angin. Material lontaran berukuran lebih besar dapat jatuh dalam jarak tertentu dari sumber erupsi dan memiliki temperatur tinggi.
Karena itu, zona di sekitar kawah menjadi area yang sangat berisiko ketika gunung sedang aktif.
6. Lahar Bisa Datang Bahkan Setelah Erupsi
Menariknya, bahaya erupsi tidak selalu berhenti ketika letusan selesai.
Material hasil erupsi yang menumpuk di lereng atau sepanjang aliran sungai dapat bercampur dengan air hujan. Campuran material vulkanik dan air tersebut kemudian dapat mengalir sebagai lahar.
Badan Geologi menjelaskan bahwa endapan material guguran lava maupun awan panas di sepanjang sungai yang berhulu di Semeru berpotensi menjadi lahar ketika berinteraksi dengan air hujan.
Karena itulah hujan deras di sekitar gunung api yang baru mengalami erupsi tetap perlu diwaspadai.
Lahar juga dapat bergerak mengikuti lembah dan aliran sungai, sehingga dampaknya bisa mencapai wilayah yang cukup jauh dari kawah.
Kenapa Semua Produk Erupsi Ini Perlu Diwaspadai?
Setiap produk erupsi memiliki karakter yang berbeda.
Abu vulkanik dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas penerbangan.
Gas vulkanik dapat menjadi bahaya yang tidak selalu terlihat.
Lava dan material pijar memiliki temperatur tinggi.
Awan panas dapat bergerak cepat mengikuti lereng dan lembah.
Sementara lahar dapat terjadi ketika material vulkanik yang sudah mengendap bercampur dengan air.
Artinya, ketika sebuah gunung erupsi, bahayanya tidak hanya berada tepat di sekitar kawah.
Untuk Semeru, misalnya, Badan Geologi secara khusus mengingatkan adanya potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sejumlah lembah serta sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Saat Gunung Erupsi?
Hal terpenting bukan mencoba mendekati gunung untuk melihat langsung erupsinya, tetapi mengikuti informasi resmi dan memahami zona bahaya.
Masyarakat maupun wisatawan sebaiknya:
- mengikuti informasi dan rekomendasi PVMBG/Badan Geologi serta pemerintah setempat;
- tidak memasuki kawasan yang sudah ditetapkan sebagai zona berbahaya;
- menjauhi lembah atau sungai yang berpotensi menjadi jalur awan panas dan lahar;
- menggunakan perlindungan yang sesuai ketika terjadi hujan abu;
- segera mengikuti arahan evakuasi apabila dikeluarkan oleh pihak berwenang.
Untuk Semeru, Badan Geologi juga memberikan pembatasan aktivitas di sekitar kawah serta mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai jalur sungai yang berpotensi dilalui awan panas maupun lahar.
Jadi, jangan hanya melihat tinggi kolom abu untuk menentukan apakah erupsi aman atau tidak. Setiap gunung api memiliki karakter dan potensi bahaya yang berbeda.
Baca Juga, Anak Krakatau: Gunung yang Lahir dari Laut dan Tak Pernah Benar-Benar Diam
Erupsi Bukan Sekadar Gunung Mengeluarkan Asap
Dari kejauhan, erupsi Gunung Semeru mungkin terlihat seperti kepulan abu yang keluar dari puncak. Namun, di balik pemandangan tersebut terdapat rangkaian proses geologi yang jauh lebih kompleks.
Ada magma yang bergerak dari dalam bumi, gas yang terlepas, abu yang terlempar ke atmosfer, lava yang keluar ke permukaan, material panas yang dapat bergerak menjadi awan panas, hingga endapan vulkanik yang suatu saat dapat terbawa air sebagai lahar.
Itulah mengapa gunung api tidak hanya perlu dilihat dari apa yang tampak di permukaan.
Erupsi Semeru kembali mengingatkan bahwa setiap aktivitas gunung api memiliki karakter dan potensi bahaya masing-masing. Dengan memahami apa saja yang sebenarnya keluar dari dalam gunung, kita tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru tentang alam Indonesia, tetapi juga bisa lebih memahami kenapa informasi dan peringatan dari pihak berwenang perlu selalu diperhatikan.
Indonesia punya banyak gunung api dengan karakter yang berbeda-beda. Di balik pemandangan megahnya, selalu ada cerita dan fenomena alam yang menarik untuk dipelajari. Temukan lebih banyak cerita tentang bentang alam dan destinasi Indonesia bersama Wondo.


