Jelajahi cerita budaya, alam, dan petualangan nusantara — dari gunung hingga pantai dan pulau tersembunyi.

BudayaDesaEventGunungKeluargaMistisPantaiPulau

Kenapa Pura Tanah Lot Berdiri di Tengah Laut? Ini Sejarah dan Legendanya

Sumber: Snowys Outdoors

PERJALANANWONDO - Kalau melihat foto Tanah Lot, mungkin satu pertanyaan langsung muncul: kenapa sebuah pura bisa berdiri di atas batu karang yang berada di tengah laut?

Pemandangan ini memang menjadi salah satu hal yang membuat Tanah Lot begitu mudah dikenali. Saat air laut surut, batu karang dan jalan menuju pura terlihat lebih jelas. Ketika air pasang, pura seolah-olah berdiri terpisah dari daratan dan dikelilingi laut.

Di balik pemandangan tersebut, ada cerita panjang yang menggabungkan sejarah, kepercayaan masyarakat Bali, dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, cerita tentang Tanah Lot tidak hanya berkaitan dengan bagaimana pura tersebut berada di atas batu. Ada pula kisah tentang seorang tokoh agama bernama Dang Hyang Nirartha, batu bernama Gili Beo, hingga ular yang dipercaya menjadi penjaga pura.

Lalu, sebenarnya apa yang ada di balik Tanah Lot?

Mengenal Tanah Lot dan Batu Karangnya

Tanah Lot berada di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Pura Tanah Lot terletak sekitar 300 meter dari garis pantai dan berdiri di atas formasi batu karang di laut.

Nama Tanah Lot sendiri sering dikaitkan dengan makna “tanah di laut”, sesuai dengan lokasinya yang berada di atas batu karang lepas pantai.

Posisinya yang unik membuat Tanah Lot menjadi salah satu ikon wisata Bali. Dari kejauhan, siluet pura di atas batu dengan latar laut terlihat sangat khas, terutama ketika matahari mulai terbenam.

Namun, keberadaan pura di tempat tersebut bukan sekadar soal pemandangan.

Awal Mula Pura Tanah Lot

Menurut sumber resmi pariwisata Indonesia, sejarah Tanah Lot dipercaya berkaitan dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha pada sekitar abad ke-16. Ia merupakan tokoh agama yang dihormati dalam sejarah dan tradisi Bali.

Dalam perjalanannya menyusuri pesisir selatan Bali, Nirartha disebut melihat sebuah pulau batu kecil bernama Gili Beo di kawasan Beraban.

Gili Beo sendiri berarti batu atau pulau yang bentuknya menyerupai burung. Tempat tersebut kemudian dianggap memiliki nilai spiritual dan dipilih sebagai lokasi untuk membangun tempat pemujaan.

Dari sinilah cerita mengenai Tanah Lot mulai berkembang.

Kenapa Pura Dibangun di Atas Batu?

Menurut kisah yang berkembang dalam mitologi Bali, keputusan membangun tempat pemujaan di Gili Beo tidak langsung diterima oleh masyarakat setempat.

Pemimpin Beraban pada saat itu disebut meminta Nirartha meninggalkan kawasan tersebut.

Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Nirartha kemudian menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memindahkan batu tempat ia berada ke tengah laut. Di atas batu tersebut kemudian dibangun sebuah pura yang dikenal sebagai Tanah Lot.

Bagian inilah yang sering membuat kisah Tanah Lot disebut memiliki unsur “misteri”.

Namun, penting untuk membedakannya sebagai bagian dari mitologi dan kepercayaan masyarakat, bukan fakta ilmiah mengenai perpindahan batu karang.

Justru, di sinilah menariknya Tanah Lot. Sebuah lanskap alam kemudian memiliki cerita budaya dan spiritual yang membuat keberadaannya semakin bermakna bagi masyarakat.

 

Baca Juga, Pesona Kayu Aro: Menikmati Kebun Teh dan Alam di Kaki Gunung Kerinci


Ada Cerita tentang Ular Penjaga Tanah Lot

Belum selesai sampai di situ.

Tanah Lot juga memiliki cerita tentang ular laut yang dipercaya menjadi penjaga pura. Dalam mitologi setempat, ular tersebut dipercaya diciptakan oleh Nirartha untuk melindungi pura dari gangguan atau kekuatan jahat.

Cerita mengenai ular ini kemudian menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian wisatawan ketika berkunjung ke Tanah Lot.

Meski begitu, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari mitologi Bali yang hidup dalam tradisi masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang perlu dianggap sebagai fakta supranatural.

Apa yang Membuat Tanah Lot Begitu Istimewa?

Kalau hanya melihat lokasinya, Tanah Lot memang sudah menarik. Tetapi daya tariknya sebenarnya berasal dari perpaduan beberapa hal sekaligus.

Ada batu karang, laut, pura, tradisi, dan cerita yang diwariskan selama berabad-abad.

Pura Tanah Lot sendiri dikaitkan dengan pemujaan kepada Bhatara Segara, yang berhubungan dengan kekuatan laut. Selain itu, kawasan di sekitar Tanah Lot juga memiliki sejumlah pura lain, seperti Pura Batu Bolong, Pura Pekendungan, Pura Jero Kandang, dan Pura Enjung Galuh.

Jadi, Tanah Lot sebenarnya bukan hanya satu bangunan yang berdiri di atas batu.

Kawasan ini merupakan bagian dari ruang spiritual dan budaya yang lebih luas.

Tanah Lot dan Tradisi yang Masih Berjalan

Nilai budaya Tanah Lot juga masih dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan keagamaan masyarakat Bali.

Salah satunya adalah Odalan, yaitu ritual yang dilaksanakan secara berkala berdasarkan kalender Bali. Indonesia Travel mencatat bahwa saat periode Odalan, pengunjung dapat melihat masyarakat membawa sesajen dan melakukan persembahyangan di kawasan pura.

Hal ini menunjukkan bahwa Tanah Lot bukan sekadar latar untuk berfoto atau menikmati sunset.

Bagi masyarakat setempat, pura tersebut memiliki fungsi spiritual yang jauh lebih penting.

Karena itu, wisatawan juga perlu memahami bahwa ketika berkunjung ke kawasan pura, ada aturan dan area tertentu yang harus dihormati.

Waktu Terbaik Menikmati Tanah Lot

Tanah Lot memang terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya. Namun, pagi hari juga bisa menjadi pilihan jika ingin menikmati suasana yang lebih tenang.

Indonesia Travel juga merekomendasikan pagi hari untuk merasakan suasana Tanah Lot yang lebih damai.

Kalau ingin melihat karakter batu karangnya dengan lebih jelas, kondisi air laut juga perlu diperhatikan. Saat air surut, formasi batu dan akses di sekitar pura dapat terlihat berbeda dibandingkan ketika air sedang pasang.

Satu hal yang tidak kalah penting: jangan lupa menjaga sikap ketika berada di kawasan pura. Kenakan pakaian yang sopan, ikuti aturan pengelola, dan hindari mengganggu aktivitas keagamaan.

 

Baca Juga, Misteri Goa Jomblang dan Cahaya Surga di Perut Bumi Gunungkidul

 

Jadi, Apa “Misteri” Tanah Lot Sebenarnya?

Mungkin tidak ada satu jawaban tunggal untuk pertanyaan kenapa Pura Tanah Lot berada di atas batu karang.

Dari sisi sejarah dan tradisi, keberadaannya dikaitkan dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha dan kisah Gili Beo. Dari sisi mitologi, ada cerita tentang kekuatan spiritual dan ular penjaga pura. Sementara dari sisi lanskap, posisi pura di atas batu karang memang menjadi salah satu keunikan alam pesisir Tabanan.

Justru perpaduan ketiganya yang membuat Tanah Lot begitu menarik.

Ketika datang ke sana, kita tidak hanya melihat sebuah pura di tengah laut. Kita sedang melihat bagaimana alam, kepercayaan, sejarah, dan budaya masyarakat Bali bertemu di satu tempat.

Dan mungkin, itulah misteri Tanah Lot yang sebenarnya: bukan sekadar bagaimana puranya bisa berdiri di atas batu karang, tetapi bagaimana sebuah tempat dapat menyimpan begitu banyak cerita hingga tetap menarik untuk dikenali sampai sekarang.

 

Kalau selama ini Tanah Lot hanya ada di daftar tempat untuk berburu sunset, mungkin sudah waktunya melihatnya dari sisi yang berbeda.

Saat berkunjung nanti, coba luangkan waktu untuk mengenal cerita, tradisi, dan makna budaya di balik pura yang berdiri di atas batu karang tersebut. Dengan begitu, perjalanan ke Tanah Lot bukan hanya soal mendapatkan foto yang bagus, tetapi juga membawa pulang cerita baru tentang Bali.

Untuk menemukan lebih banyak tempat di Indonesia yang punya cerita menarik di balik pemandangannya, Wondo siap menjadi teman perjalananmu menjelajahi Indonesia.